Sabtu, 02 Juni 2012

PROPOSAL PENELITIAN TP


TUGAS INDIVIDU
PROPOSAL
MATA KULIAH:
PENELITIAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
DOSEN: Dr. Indrati Kusumaninggrum, M.pd




OLEH:
JUMIATI
NIM    : 1109854



PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2012
BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
            Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini sungguh terasa  kemajuannya. Setiap saat teknologi yang berbasis Komputer terus berkembang sesuai dengan kebutuhan manusia. Begitu juga dalam hal pendidikan sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan formal yang diharapkkan dapat membantu dalam meningkatkan kecerdasan generasi muda diberbagai bidang studi dan salah satunya adalah dibidang bahasa inggris. Kita tahu bahwa banyak ilmu pengetahuan dan teknologi yang digunakan sekarang, menggunakan bahasa inggris dalam tutorial arahan penggunaannya. Oleh karena itu diperlukan metode yang baik  sehingga tujuan pembelajaran tercapai. Dan untuk keberhasilan belajar ini sangat dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya adalah penggunaan media yang berfungsi sebagai perantara pesan-pesan pembelajaran.
            Dengan meningkatnya kemampuan berbahasa inggris , diharapkan dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas  dan memiliki wawasan yang luas. Pengembangan dalam berbahasa inggris yang dipelajari disekolah secara langsung dapat dilihat dari hasil nyata yang dicapai melalui pengucapan kata-kata baik secara lisan maupun tulisan. Penyusunan materi pelajaran yang menarik akan besar artinya bagi peserta didik, khususnya dalam meningkatkan motivasi belajar siswa apalagi dilakukan dengan rancangan yang menarik menggunakan komputer. Hal ini dapat memberikan motivasi  tersendiri bagi peserta didik dalam meningkatkan usaha  belajar  untuk mencapai hasil yang baik.
            Sekolah Dasar 008 Rambah Hilir adalah sekolah yang mengajar bahasa inggris mulai dari kelas satu sampai kelas enam.
            Dari pengamatan  penulis, pembelajaran  bahasa inggris yang digunakan Sekolah Dasar 008 Rambah Hilir menggunakan media cetak atau buku panduan saja. Oleh karena itu  penulis mencoba memadukan antara  buku dengan aplikasi multimedia, sehingga pembelajaran itu akan lebih menarik. Karena aplikasi tersebut akan  digabungkan animasi ,gambar, tulisan, dan suara. Namun, aplikasi tersebut bukanlah sebagai pengganti dari buku panduan yang digunakan, tetapi hanya sebagai pendukung atau tambahan saja. Oleh karena itu siswa akan lebih tertarik untuk belajar bahasa inggris. Karena siswa bisa belajar sendiri mengenal dan menghafal kosa kata bahasa inggris dimana saja dan kapan saja tanpa gurunya.
            Bertolak ukur dari latar belakang diatas, penulis tertarik untuk melihat seberapa besar pengaruh penggunaan metode macromedia flash dan motivasi belajar tehadap hasil belajar siswa Sekolah Dasar 008 Rambah Hilir dengan judul:”PENGARUH PENGGUNAAN METODE MACROMEDIA FLASH DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA INGGRIS SISWA SD 008 RAMBAH HILIR”.


B.      Identifikasi masalah
            Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dapat diidentifikasi permasalahannya berikut ini:
1. Media pembelajaran pada sekolah dasar 008 Rambah hilir masih  sederhana            dikarenakan media pembelajaran yang ada masih terpatok pada buku-buku paket.
2 .Metode pembelajaran yang tidak interaktif akan mengakibatkan siswa menjadi bosan
3. Siswa kurang termotivasi dalam mengikuti pembelajaran, karena penggunaan media yang monoton dan tidak bervariasi.
4. Hasil belajar siswa yang rendah adalah salah satu penyebab kurang efektifnya penggunaan media.  
C. Pembatasan masalah
            Supaya penelitian ini tidak keluar dari jalurnya dan untuk memperjelas sasaran dari penelitian ini dibatasi dengan ruang lingkup permasalahan pada :
1. Penelitian ini meneliti pengaruh macromedia flash pendidikan bahasa inggris dan hasil belajar siswa.
            2. Objek dalam penelitian ini adlah siswa kelas II SD N 008 Rambah Hilir
3. Hasil belajar yang akan diukur adalah hasil belajar yang diajarkan dengan menggunakan macromedia flash pendidikan bahasa inggris
D.  Rumusan  masalah
Berdasarkan masalah diatas, permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Apakah hasil belajar bahasa inggris kelompok siswa (laki-laki) yang menggunakan macromedia flash lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar kelompok siswi(perempuan) yang diajarkan dengan macromedia flash.
2. Apakah hasil belajar bahasa inggris kelompok siswa(laki-laki) yang berpengetahuan awal tinggi diajar dengan menggunakan macromedia flash lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar kelompok siswi(perempuan) yang berpengtahuan awal tingggi dengan menggunakan macromedia flash.
3. Apakah hasil belajar bahasa inggris kelompok siswa(laki-laki) yang berpengetahuan awal rendah diajar dengan menggunakan macromedia flash lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar kelompok siswi(perempuan) yang berpengtahuan awal rendah dengan menggunakan macromedia flash.

E.  Tujuan Penelitian           
            Adapun uraian dari poin tujuan penelitian dan manfaat penelitian adalah sebagai berikut:
1.      Tujuan Penelitian
            Penelitian ini bertujuan :
1. Mengungkapkan perbedaan  hasil belajar siswa (laki-laki) yang diajarkan dengan menggunakan macromedia flash lebih tinggi dari pada siswi (perempuan) yang diajarkan dengan menggunakan macromedia flash.
2.  Mengungkap perbedaan hasil belajar bahasa inggris kelompok siswa(laki-laki) yang berpengetahuan awal tinggi diajar dengan menggunakan macromedia flash lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar kelompok siswi(perempuan) yang berpengtahuan awal tingggi dengan menggunakan macromedia flash.
3.  Mengungkap perbedaan hasil belajar bahasa inggris kelompok siswa(laki-laki) yang berpengetahuan awal rendah diajar dengan menggunakan macromedia flash lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar kelompok siswi(perempuan) yang berpengtahuan awal rendah dengan menggunakan macromedia flash.
F. Manfaat Penelitian
            Adapun manfaat  yang diinginkan dalam penelitian ini adalah:
1.  Penelitian ini memberikan masukan kepada guru untuk menemukan strategi belajar yang baik, sehingga saat memberikan materi ajar, guru mampu menemukan strategi atau model pembelajaran serta media yang tepat untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.
2.  Penelitian ini memberikan masukan pada guru dalam meningkatkan pengalaman belajar siswa.
3.  Penelitian ini memberikan masukan pada guru untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa dengan menggunakan media yang interaktif.       













BAB II
KAJIAN  PUSTAKA
A.Landasan Teoritis
    1.Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar
            Saat ini banyak negara di dunia ini, termasuk Indonesia, telah memulai pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing pada anak usia dini. Hal ini disebabkan banyak orang percaya bahwa pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa Inggris apabila dimulai pada usia dini sebelum anak mencapai masa kritis  yakni usia 12-13 tahun, akan memberikan hasil yang lebih baik, meskipun sampai sekarang belum ada bukti empiris yang memperkuat pendapat tersebut (Nunan, 1999). Tingkat kemahiran berbahasa seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh faktor usia tapi juga faktor-faktor lainnya, seperti tipe program dan kurikulum, lamanya pembelajaran, teknik dan aktivitas yang digunakan (Rixon, 2000). Para pendidik terutama jika mereka akan memulai memberikan pembelajaran bahasa Inggris pada anak usia dini harus memahami hal-hal yang mendasar tentang perkembangan diri anak dan dalam hubungannya dengan proses pembelajaran bahasa Inggris agar mereka dapat mengadakan eksplorasi, merencanakan dan mengimplementasikannya dalam proses pembelajaran bahasa Inggris agar pembelajaran tersebut tepat sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Bahasa inggris merupakan bahas asing yang banyak digunakan untuk berkomunikasi oleh bangsa-bangsa didunia. Karenanya mahir berbahasa inggris penting sebagai kunci ilmu pengetahuan. Sekolah Dasar Negeri 008 Rambah Hilir telah mengajarkan bahasa inggris mulai dari kelas 1 dengan bantuan buku bahasa inggris dengan materi yang disajikan secara sistematis dilengkapi dengan gambar berwarna .Anak akan lebih mudah menghafal dengan cepat karena daya ingatnya terbantu oleh bahasa gambar yang ada disetiap kosakata(W.S.Pribadie,dkk,2009).
            Menurut Johan(1992,hal.5) anak antara umur enam sampai 12 tahun dikatakan berada pada masa yang baik untuk belajar bahasa asing. Untuk itu metode yang baru seharusnya diterapkan dalam pengajaran bahasa inggris sebagai bahasa kedua pada anak-anak tersebut. Metode tersebutnya mesti sederhana, komunikatif, tanpa acuan khusus dalam peraturan gramatikal yang sudah sesuai,   tujuan pembelajaran bahasa Inggris untuk anak usia dini secara umum adalah membuat anak merasa berkompeten dan percaya diri dalam belajar bahasa Inggris, menyediakan lingkungan pembelajaran yang aman, bersifat menghibur dan rekreatif serta mendidik dan menciptakan pembelajar bahasa Inggris untuk jangka panjang (Schindler, 2006)
Sedangkan ruang lingkup pembelajaran bahasa Inggris untuk anak usia dini meliputi keterampilan mendengar, berbicara, membaca dan menulis serta komponen kosa kata, pelafalan dan struktur bahasa. Semuanya ini harus disesuaikan dengan kemampuan anak yang diajar. Menurut Hendro Darmodjo & Kaligis (1992:25) anak usia dini sekolah dasar adalah anak yang sedang mengalami pertumbuhan baik pertumbuhan intelektual, emosional maupun pertumbuhan badaniyah, dimana kecepatan pertumbuhan anak pada masing-masing aspek tersebut tidak sama,sehingga terjadi berbagai variasi tingkat pertumbuhan dari ketiga aspek tersebut.Hal ini merupakan salah satu factor yang menimbulkan adanya perbedaan individual pada anak-anak sekolah dasar walaupun mereka dalam rentang usia yang sama.
Pada kegiatan belajar mengajar didalam kelas, setiap siswa tentu memiliki tingkat intelegensi yang berbeda-beda,baik laki-laki maupun perempuan. Menurut Yusuf syamsu(2001:180) karakteristik siswa sekolah dasar berdasarkan sifat psikologinya, yang perlu mendapat perhatian gurunya adalah (a). Anak SD senang bermain. Dalam hal ini menuntut kegiatan pendidikan yang bermuatan permainan terutama untuk kelas rendah. (b). Anak SD senang bergerak, orang dewasa dapat duduk berjam-jam, sedangkan anak  SD dapat duduk dengan tenang paling lama sekitar tiga puluh menit. (c). Anak SD senang bekerja dalam kelompok sebaya,anak belajar aspek-aspek yang penting dalam proses sosialisasi,seperti : belajar setia kawan,belajar tidak tergantung pada temannya dilingkungan, belajar menerima tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain secara sehat. (d).  SD senang merasakan atau melakukan / memperagakan sesuatu secara langsung. Dari berbagai karakter anak-anak tersebut kita perlu menciptakan teknik pembelajaran yang benar-benar tepat dan sesuai dengan karakter anak-anak tersebut.
2.Macromedia flash sebagai media pembelajaran
A. Pengertian media pembelajaran
            Oemar Hamalik ( dalam Azhar, 1996:15 ) menyatakan bahwa media adalah alat untuk memberi peransang bagi peserta didik supaya terjadi proses  belajar. Media digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat mempengruhi efektifitas pembelajaran serta dapat mempengaruhi psikologi siswa. Pada mulanya, media pembelajaran hanya berfungsi sebagai alat bantu guru untuk mengajar,  yaitu alat bantu visual, (Sanjaya, 2008:206 ). Sekitar  pertengahan abad ke – 20 usaha pemanfaatan visual dilengkapi dengan digunakanya alat audio, hingga lahirlah alat bantu audio – visual. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ( IPTEK ), khususnya dalam bidang pendidikan, saat ini penggunaan alat bantu atau media pembelajaran menjadi semakin luas dan interktif, seperti adanya komputer dan internet ( Wenny Diana, 2011:17 ).
            Rudy Breets ( dalam sanjaya, 2008:212 ) menyatakan ada 7 ( tujuh ) klasifikasi media :
a.       Media audiovisual gerak, seperti: film suara, pita video, film tv.
b.       Media audiovisual diam, seperti: film rangkai suara.
c.       Audio semi gerak, seperti: tulisan jauh bersuara.
d.      Media visual bergerak, seperti: film bisu.
e.       Media visual diam, seperti: halaman cetak, foto, micro phone, slide bisu.
f.       Media audio, seperti: radio, telepon, pita audio.
g.      Media cetak, seperti: buku, modul, bahan ajar mandiri.
Selanjutnya sanjaya, (dalamWenny Diana, 2011:17 )  menjelaskan tentang prinsip pemilihan media adalah :
a.       Pemilihan media harus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
b.      Pemilihan media harus berdasarkan konsep yang jelas.
c.       Pemilihan media harus sesuai dengan karakteristik siswa.
d.      Pemilihan media harus sesuai dengan gaya belajar siswa serta gaya dan kemampuan guru.
e.       Pemilihan media harus sesuai dengan kondisi lingkungan, fasilitas, dan waktu yang tersedia untuk kebutuhan pembelajaran.

B.     Pengertian macromedia flash
            Flash adalah program animasi untuk menghasilkan gambar dengan fase editan yang telah ditentukan, bahkan dengan flash kita bisa membuat game. Macromedia flash adalah program animasi yang banyak digunakan untuk menghasilkan desain dan animasi interaktif. Media ini memiliki kemampuan dalam mengintegrasikan komponen warna, music, dan animasi grafik. Media ini juga mampu memberikan balikan sehingga pengguna dapat aktif berinteraksi dengan media yang diproduksi. Flash tidak hanya untuk membuat animasi saja tapi juga bisa membuat bermacam karya lain diantaranya:
1.      Membuat presentasi
2.      Membuat aplikasi
3.      Membuat konten video
4.      Membuat media – rich flash dengan mengkombinasikan unsur gambar, video, dan efek – efek khusus.

C.    PENGERTIAN MOTIVASI
Motivasi adalah dorongan dasar yang menggerakkan seseorang bertingkah laku. Dorongan ini berada pada diri seseorang yang menggerakakn untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan dorongan dalam dirinya. Oleh karena itu, perbuatan seseorang yang didasarkan atas motivasi tertentu mengandung tema sesuai dengan motivasi yang mendasarinya.
Motivasi juga dapat dikatakan sebagai perbedaan antara dapat melaksanakan dan mau melaksanakan. Motivasi adalah kekuatan, baik dari dalam maupun dari luar yang mendorong seseorang untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya.
Motivasi berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu, yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat. Motif tidak dapat diamati secara langsung, tetapi dapat diinterpretasikan dalam tingkah lakunya, berupa rangsangan, dorongan, atau pembangkit tenaga munculnya suatu tingkah laku tertentu. Motif dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
( 1 ) motif biogenis yaitu motif – motif yang berasal dari kebutuhan – kebutuhan organisme demi kelanjutan hidupnya.
( 2 ) motif sosiogenetis yaitu motif – motif yang berasal dari lingkungan kebudayaan tempat orang tersebut berada.
( 3 ) motif teologis, dalam motif ini manusia adalah sebagai makhluk yang berketuhanan, sehingga ada interaksi antara manusia dengan tuhannya.
Dengan demikian motivasi merupakan dorongan yang terdapat dalam diri seseorang untuk berusaha mengadakan perubahan tingkah laku yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhannya.
David McClelland et al (1976:28 ) berpendapat bahwa motif merupakan implikasi dari hasil pertimbangan yang telah dipelajari dengan ditandai suatu perubahan pada situasi afektif. Sumber utama munculnya motif ini adalah dari rangsangan perbedaan situasi sekarang dengan situasi yang diharapkan. Motivasi dalam pengertian tersebut memiliki dua aspek,  yaitu adanya dorongan dari dalam dan dari luar untuk mengadakan perubahan dari suatu keadaan pada keadaan yang diharapkan, dan usaha untuk mencapai tujuan. Berdasarkan teori diatas maka dapat disimpulkan, motivasi adalah suatu dorongan yang timbul oleh adanya rangsangan dari dalam maupu dari luar sehingga seseorang berkeinginan untuk mengadakan perubahan tingkah laku tertentu lebih baik dari keadaan sebelumnya. Dengan sasaran sebagai berikut:
a.              Mendorong manusia untuk melakukan suatu aktivitas yang didasarkan atas pemenuhan kebutuhan. Dalam hal ini, motivasi merupakan motor penggerak dari setiap kebutuhan yang akan dipenuhi.
b.             Menentukan arah tujuan yang hendak dicapai, dan
c.              Menentukan perbuatan yang harus dilakukan.
Beberapa teknik motivasi dalam pembelajaran sebagai berikut:
1.      Pertanyaan penghargaan secara verval. Pernyataan verbal terhadap perilaku yang baik atau hasil kerja atu hasil belajar siswa yang baik merupakan cara paling mudah dan efektif untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kepada hasil belajar yang baik.
2.      Menggunakan nilai ulangan sebagai pemacu keberhasilan. Pengtahuan atas hasil pekerjaan merupakan cara untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.
3.      Menimbulkan rasa ingin tahu. Ras ingin tahu  merupakan daya untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.
4.      Memunculkan sesuatu yang tidak diduga oleh siswa.
5.      Menjadikan tahap dini dalam belajar mudah bagi siswa. Hal ini memberikan semacam hadiah bagi siwa pada tahap pertama belajar yang memungkinkan siswa bersemangat untuk belajar selanjutnya.
6.      Menggunakan materi yang dikenal siswa sebagai contoh dalam belajar.
7.      Gunakan kaitan yang unik dan tak terduga untuk menerapkan suatu konsep dan prinsip yang telah dipahami.
8.      Menuntut siswa untuk menggunakan hal –hal yang telah dipelajari sebelumnya.
9.      Menggunakan simulasi dan permainan.
10.  Mengurangi akibat yang tidak menyenangkan dan keterlibatan siawa dalam kegiatam belajar.
11.  Memberikesemptan kepada siswa untuk memperlihatkan kemahiranya didepan umum.
Motivasi menjelaskan mengapa ada orang berperilaku tertentu untuk mencapai tujuan. Teori motivasi berupaya merumuskan apa yang membuat orang menyajikan kinerja yang baik. Secara umum, teori motivasi dibagi dalam dua kategori,  yaitu teori kandungan yang memusatkan perhatian pada kebutuhan dan sasaran tujuan dan teori proses, yang berkaitan dengan bagaimana orang berperilaku dan mengapa mereka berperilaku dengan cara tertentu.
McClelland (1961 ) menyatakan 3 ( tiga ) motivasi utama yaitu:
1.      penggabungan.
2.      Kekuatan.
3.      Dan prestasi.
Sedangkan Maslow (1943 ) menyatakan motivasi sebagai keragaman diantar oran dan kedudukan dengan kebutuhan pencapaian yang tinggi, yaitu:
1.        Selera akan keadaan yang menyebabkan seseorang dapat bertanggung jawab secara pribadi.
2.        Kecenderungan menentukan sasaran – sasaran yang pantas dan memperhitungkan risikonya.
3.        Keinginan untuk mendapatkan umpan balik yang jelas atas kinerja.
Orang –orang akan belajar cepat dan lebih baik apabila mereka sangat termotivasi untuk mencapai sasaran mereka. Dan karena sangat termotivasi untuk mencapai sasarannya, mereka selalu mau menerima nasihat dan saran tentang cara meningkatkan kinerjanya. Motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Belajar adalah perubahan tingkah laku secara relative permanen dan secara potensial terjadi sebagai hasil dari praktik atau penguatan yang dilandasi tujuan untuk mencapai tujuan tertentu. Motivasi belajar dapat timbul karena faktor intrinsik, berupa hasrat dan keinginan berhasil dan dorongan kebutuhan belajar, harapan akan cita – cita. Sedangkan faktor  ekstrinsiknya adalah adanya penghargaan, lingkungan belajar yang kondusif, dan kegiatan bealjar yang menarik. hakikat motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa – siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan beberapa indikator atau unsur yang mendukung. Hal itu mempunyai peranan besar dalam keberhasilan seseorang dalam belajar. Indikator motivasi belajar dapat diklasifikasikan sebagi berikut:
1.      Adanya hasrat dan keinginan berhasil.
2.      Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar.
3.      Adanya harapan dan cita – cita masa depan.
4.      Adanya penghargaan dalam belajar.
5.      Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar.
6.      Adanya lingkungan belajar yang kondusif, sehingga memungkinkan siswa dapat belajar dengan baik.
D.    Pengetahuan awal
Wenny Diana ( 2011:23 ) “Pengetahuan awal belajar merupakan kondisi intelektualitas yang dimiliki seseorang dan mendorongnya untuk mampu dengan mudah mengingt kembali pengetahuan atau pengalaman baru. Kemampuan awal siswa / I pada dasarnya akan berpengaruh terhadap hasil belajar yang ingin dicapai. Tingkat pengetahuan ini lebih dikenal dengan entry behavior”.
Muhammad ( dalam Wenny Diana, 2011:23 ) “tingkatkemampuan awal siswa / I merupakan keadaan pengetahuan atau keterampilan yang harus dimiliki oleh siswa / I terlebih dahulu sebelum mempelajari  pengetahuan atau keterampilan baru”. Seseorang dapat memilki sesuatu  kemampuan berupa hasil belajar denagn baik, apabila sebelumnya ia telah memiliki kemampuan lebih rendah dalm bidang yang sama.
Piaget ( dalam Paul, 1993:33 ) mengatakan bahwa pikiran seseorang ada struktur pengetahuan awal yang disebut schemata. Setiap schemata berperan sebagai filter dan fasilitator bagi ide – ide dan pengalaman baru. Schemata mengatur, mengkoordinir dan mengintensifkan prinsip – prinsip dasar melalui kontak dengan pengalaman baru.
Kesimpulan dari pendapat para ahli diatas bahwa kemampuan awal merupakan keadaan pengetahuan atau keteramapilan yang harus dimilki oleh siswa terlebih dahulu sebelum mempelajari pengetahuan atau keterampilan yang baru. Guru dapat menetapkan dari mana pembelajaran harus dimulai apabila guru telah mengetahui kemampuan awal siswa, karena kemampuan awal siswa lebih rendah dari apa yang dipelajari. Dengan kemmampuan awal yang dimiki siswa, secara pribadi akan mendorongnya untuk memilki rasa percaya diri, motivasi dan dapat meningkatkan hasil belajar.

E.     Hasil belajar
Thorndike, salah satu pendiri aliran teori belajar mengataka  belajar adalah proses interaksi antara stimulus ( yang mungkin berupa pikira, perasaan, atau gerakan ) dan respons ( yang juga bisa berupa pikiran, perasaan atau gerakan ). Perubahan tingkah laku dapat terwujud sesuatu yang konkrit dan yang nonkonkrit.
Pengertian dan konsepsi hasil belajar yang dikemukakan oleh para ahli sedikit banyak dipengaruhi oleh aliran – aliran atau teori – teori yang dianutnya. Menurut Skinner dengan teori kondisioning operannya sebagaimana dikutip Gredler ( 1991:115 ) mengatakan bahwa hasil belajar merupakan respon ( tingkah laku ) yang baru. Pada dasarnya respon yang baru itu sama pengertiannya dengan tingkah laku ( pengetahuan, sikap, keterampilan ) yang baru.
       Gage (1984) mengemukakan bahwa belajar adalah sebagai suatu proses dimana suatu organisma berubah perilakunya sebagai akibat dari pengalaman. Belajar merupakan proses yang berlangsung dalam jangka waktu lama melalui latihan maupun pengalaman yang membawa kepada perubahan diri dan perubahan cara mereaksi terhadap suatu perangsang tertentu, serta memperoleh kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap. Belajar dapat diartikan sebagai suatu proses perubahan tingkah laku akibat adanya interaksi individu dengan lingkungannya. Gagne dan Briggs (1997) mengemukakan ada dua defenisi belajar, yaitu : (a) Belajar adalah suatu proses untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, kebiasaan dan tingkah laku. (b) Belajar merupakan penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang diperoleh dari proses pembelajaran.
       Hasil belajar ditentukan oleh pelaksanaan interaksi dalam pembelajaran. Menurut Depdiknas (2004:6) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu : (1) Faktor guru adalah keterampilan mengajar, mengelola tahapan pembelajaran dan memanfaatkan metoda. (2) Faktor siswa adalah karakteristik umum dan karakteristik khusus. (3) Faktor kurikulum adalah bagaimana merealisasikan komponen metode dan evaluasi. (4) Faktor lingkungan adalah lingkungan fisik dan non fisik yang menunjang situasi pembelajaran.
          Dalam proses pembelajaran guru memengang kendali utama untuk keberhasilan tercapainya tujuan pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar. Untuk itu guru harus memiliki keterampilan mengajar, mengelola tahapan pembelajaran, memanfaatkan pendekatan, menggunakan media dan mengalokasikan waktu.
    Arikunto (1997) mengemukakan bahwa hasil belajar merupakan suatu hasil yang diperoleh siswa setelah mengikuti proses pembelajaran. Hasil belajar dinyatakan dalam bentuk angka, huruf atau kata-kata amat baik, baik, cukup, kurang dan gagal. Hal senada juga diungkapkan oleh Amidjaja (1980) bahwa hasil belajar atau prestasi belajar adalah segala sesuatu yang menggambarkan tingkat pencapaian belajar selama waktu tertentu. Biasanya hasil belajar ini diperoleh dari penilaian yang tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan penyelenggaraan pendidikan.
          Hasil belajar yang diharapkan pada pembelajaran matematika tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan kemampuan kognitif saja, tetapi keberhasilan semua aspek. Penilaian yang dilakukan harus menyeluruh dan terintegrasi dengan proses pembelajaran. Penilaian menyeluruh dilakukan secara kontinu di dalam proses pembelajaran matematika. Depdiknas ( 2003:20 ) lebih rinci menyatakan bahwa penilaian hasil belajar dapat dilakukan melalui : (1) performance siswa, (2) presentasi/demontrasi siswa, (3) kegiatan dan laporan dari tugas proyek, (4) hasil dari suatu kegiatan (produk), (5) jurnal, (6) karya tulis, (7) pekerjaan rumah, (8) kuiz, dan (9) hasil tes tertulis.
a.       Ranah kognitif         : berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari aspek yaitu pengetahaun, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan penelaian.
b.      Ranah afektif           : berkenaan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif meliputi lima jenjang kemampuan yaitu menerima, menjawab, atau reaksi, menilai, organisasi dan karakteristik dengan suatu nilai atau kompleks nilai.
c.       Ranah psikomotor   : meliputi keterampilan motorik, manipulasi benda – benda, koordinasi neuromuscular ( menghubungkan, mengamati ).
                   Menurut Caroll dalam R. Angkowo & A. Kosasih ( 2007:51 ), bahwa hasil belajar siswa dipengruhi oleh lima faktor yaitu ( 1 ) bakat belajar, ( 2 ) waktu yang tersedia untuk belajar, ( 3 ) kemampuan individu, ( 4 ) kualitas pengajaran, ( 5 ) lingkungan. Dari beberapa pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa faktor – faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah faktor internal siswa antara lain kemampuan yang dimilki siswa tentang materi yang akan disampaikan, sedangkan faktor eksternal antara lain strategi pembelajaran yang digunakan guru dalam proses belajar mengajar.
C.  Kerangka Konseptual
1.      perbedaan  hasil belajar siswa (laki-laki) yang diajarkan dengan menggunakan macromedia flash dan kelompok siswi (perempuan) yang diajarkan dengan menggunakan macromedia flash.
Untuk mencapai hasil belajar bahasa inggris yang optimal dank arena keterbatasan kompetensi guru dalam penyajian bahan ajar, maka guru harus dapat memanfaatkan berbagai jenis media pembelajaran dan salah satunya adalah dengan menggunakan macromedia flash.
Macromedia flash merupakan seperangkat alat bantu pembelajaran modern yang sesuai dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
2.      Perbedaan hasil belajar bahasa inggris kelompok siswa(laki-laki) dan  kelompok siswi(perempuan) yang berpengtahuan awal tingggi yang diajar dengan menggunakan macromedia flash.
Dalam guru dan guru, bagi siswa yang memilki kemampuan awal akan mudah menyesuaikan diri dan berinteraksi dengan materi yang disampaikan guru. Media pembelajaran berfungsi untuk memperjelas bahan pengajaran , dapat mengatasi keterbatasan indera, raba dan waktu serta dapat dijadikan sebagai sumber belajar bagi siswa/i.
3.      Perbedaan hasil belajar bahasa inggris kelompok siswa(laki-laki) dan kelompok siswi(perempuan) yang berpengtahuan awal rendah dengan menggunakan macromedia flash.
       Pemilihan dan penggunaan media pembelajaran baik macromedia flash ataupun media bagi siswa yang berkemampuan awal rendah dapat memberikan keuntungan bagi mereka, karena pada waktu guru menyampaikan materi pelajaran siswa akan lebih mudah untuk menerima konsep, gagasan atau ide – ide sehingga hasil belajar akan tercapai sesuai dengan tujuan yang yang telah dirumuskan.
E. Hipotesis
            Berdasarkan kerangka konseptual diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Hasil belajar bahasa inggris kelompok siswa (laki-laki) yang menggunakan macromedia flash lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar kelompok siswi(perempuan) yang diajarkan dengan macromedia flash.
2. Hasil belajar bahasa inggris kelompok siswa(laki-laki) yang berpengetahuan awal tinggi diajar dengan menggunakan macromedia flash lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar kelompok siswi(perempuan) yang berpengtahuan awal tingggi dengan menggunakan macromedia flash.
3. Hasil belajar bahasa inggris kelompok siswa(laki-laki) yang berpengetahuan awal rendah diajar dengan menggunakan macromedia flash lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar kelompok siswi (perempuan) yang berpengtahuan awal rendah dengan menggunakan macromedia flash.


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.           Jenis Penelitian, Waktu dan tempat Penelitian
          Penelitian ini menggunakan jenis penelitian quasi eksperimen karena tidak memungkinkan semua variable dapat dikontrol dengan tujuan untuk menguji hipotesis tentang ada tidaknya perbedaan yang signifikan dari variable – variable yang teliti. Tujuan dari penelitian ini untuk memperoleh informasi yang merupakan pemikiran yang dapat diperoleh dari eksperimen yang sebenarnya, namun dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol variable – variable terikat.
          Penelitian quasi eksperimen yang akan dilakukan terdiri dari dua kelas yaitu kelas eksperimen ( kelas laki – laki ) yang diberikan perlakuan berupa macromedia flash dan kelas control ( kelas perempuan ) dengan menggunakan macromedia flash. Penelitian ini dilakukan dikelas II SD negeri 008 Rambah hilir kecamatan Rambah hilir, Rokan Hulu. Adapun pelaksanaan penelitian akan dilaksanakan pada semester 1 tahun 2013.
          Penelitian eksperimen mencoba untuk meneliti ada tidaknya hubungan sebab – akibat. Adanya cara yang digunakan denganmembandingkan satu atau lebih kelompok eksperimen yang diberi perlakuan dengan satu atau lebih kelompok yang tidak diberi perlakuan. Dengan demikian akan kelihatan kelompok mana yang lebih unggul dilihat dari pencapain hasil belajarnya.          
B.            Populasi dan Sampel
          Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV, SD N 008 Rambah Hilir yang 65 orang. Karena keterbatasan populasi, maka penentuan kelas eksperimen dan kelas control dilakukan tidak menggunakan teknik sampling random sedehana ( simple random sampling ). untuk kepentingan penelitian ini semua kelompok diambil dari kelas yang sama yaitu kelas IV ( empat ) yang terdiri dari kelas IV laki – laki dan kelas perempuan. Kelas laki – laki sebagai kelas eksperimen, dan kelas perempuan sebagai kelas control dimana kedua kelas sama – sama menggunakan macromedia flash.
          Langkah – langkah setelah penentuan kelas eksperimen dan kelas control diputuskan, tindakan selanjutnya adalah :
1.  Mendata seluruh jumlah siswa/siswi kelas IV yaitu sebanyak 65 orang.
Kelas IV laki – laki jumlah 30.
Kelas IV perempuan jumlah 35.
2.  Menentukan siswa/siswi yang menjadi kelompok control dan kelompok eksperimen.
C.            Variabel Penelitian
          Dalam penelitian ini terdapat dua jenis variable yang akan diteliti, yaitu dua variable bebas dan satu variable terikat. Yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Variabel bebas pertama adalah media pembelajaran yang terdiri dari satu kategori, yaitu pembelajaran bahasa inggris yang diajar dengan menggunakan macromedia flash pada kelompok siswa ( laki – laki ), kelompok siswi ( perempuan ).
2. Variable bebas kedua adalah klasifikasi jenis kelamin, laki – laki dan perempuan.
3. Variable bebas ketiga adalah pengetahuan awal, siswa/I yang dari dua katerogi, yaitu pertama, kemampuan awal tinggi, dan kedua kemampuan awal rendah.
D.           Definisi  Operasional
          Istilah – istilah kunci yang digunakan dalam penelitian ini dikemukakan pada defenisi operasional sebagai berikut :
1.      Macromedia flash adalah sebuah program membuat animasi yang didisain sedemikian rupa dan digunakan sebagai media untuk penyampaian informasi berupa materi ajar yang diberikan kepada siswa – siswi pada saat pelajaran bahasa inggris.
2.      Mata pelajaran bahasa inggris adalah salah satu mata pelajaran yang harus diikuti oleh siswa/I kelas IV SD N 008 Rambah Hilir, mata pelajaran bahasa inggris merupakan mata pelajaran pokok sesuai ketentuan dari pendidikan nasional dan tersebut mata pelajaran yang di UN- kan.
3.      Hasil belajar bahasa inggris yang dimaksud dalam penelitian ini adalah skor yang didapat siswa setelah proses pembelajaran bahasa inggris berlangsung, baik yang diajarkan dengan macromedia flash ataupun dengan media pembelajaran konvensial.
E.            Intstrumen Penelitian
          Instrument penelitian yang digunakan terdiri dari instrument perlakuan dan instrument ukur:
a.              Instrument perlakuan berupa:
1.      Rangcangan persiapan pembelajaran. Untuk pembelajaran yang dieksperimen dalam mata pelajaran bahasa inggris.
2.      Instrument ukur berupa
          Soal tes untuk mengetahui pengetahuan awal siswa/siswi maupun, soal tes hasil belajar. Dengan jumlah 20 soal, bentuk soal objektif. Tes hasil belajar disusun berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar dari materi yang dieksperimenkan. Penentuan skor yaitu dengan ketentuan setiap jawaban yang benar diberi skor 1 dan setiap skor yang salah diberi skor 0. Sebelum tes diberikan pada siswa sebagai sampel penelitian maka dilakukan uji coba. Uji coba ini dilkukan untuk mengetahui tingkat validitas dan reabilitas tes. Setelah itu dilakuakaan uji coba dan direvisi sesuai dengan persyaratan.
1. Uji coba instrument
Uji coba instrument untuk mengetahui validitas dan reliabilitasnya. Validitas dari tes, diselidiki dengan meminta pendapat ahli terhadap butir soal yang dibuat. Dari pendapat ahli tersebut diketahui bahwa tes tersebut harus diperbaiki, baik kalimat soal ( stemp ) ataupun ( pengecoh ) serta yang lain – lainnya. Analisis pokok uji : a) tingkat kesukaran, b) daya pembeda, c) reliabilitas.
a.       Tingkat kesukaran ( difficulty index )
P = B               
      JS
Suharsimi, 1992 : 208
P    : indeks kesukaran
B   : banyaknya yang menjawab soal itu dengan betul
JS  : jumlah seluruh siswa peserta tes
Tingkat kesukaran
Nilai
Sukar
Sedang
Mudah
0.0      0.30
0.30 –- 0.70
0.70 – 1.00
b.      Daya beda
          Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Seluruh peserta tes akan dibagi dalam kelompok upper group ( kelompok atas ) dan lower group ( kelompok bawah ). Adapun cara menentukan daya beda dapat menggunakan rumus berikut ( suharsimi, 1992:213 ).

D  = BA - BB
      JA - JB
Keterangan      :
          D            : indeks daya beda
BA             : banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal itu dengan benar.
BB             : banyaknya peseta kelompok bawah yang menjawab soal itu dengan benar.
JA               : banyaknya peserta kelompok atas
JB               : Banyaknya peserta kelompok atas.
PA              : proporsi peserta kelompok atas yang menjawab soal itu benar.
PB              : Proporsi  peserta kelompok bawah yang menjawab soal itu dengan benar.
c.       Uji keandalan
Reliabilitas suatu pengukur umum adalah derajat ketepatan  suatu alat untuk mengukur apa saja yang akan diukur, reliabilitas yang ditunjukan dengan menganalisa stabilitas tes dengan untuk menentukan stabilitas pokok – pokok uji yang bernomor urut genap maupun ganjil. Untuk mencari reliabilitas suatu tes dapat digunakan rumus yang dikemukakan oleh Kuder Richardson ( KR20).
rn =  n                                                         v - ∑pq
       n-1                                                           v1
Keterangan     :
rn                            : reliabilitas tes secara keseluruhan
v                      : proporsi siswa menjawab dengan benar
q                      : 1 – p proporsi siswa menjawab dengan salah
∑pq                 : jumlah perkalian p dan q
n                      : jumlah item soal
v1                     : varian total
2. Desain penelitian
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan desain factorial 2x2, by blok yaitu meneliti pengaruh yang terdiri dari dua variable bebas yang masing – masing mempunyai dua level, dua kelompok yang dijadikan sampel dibedakan atas kategori kelas eksperimen dan kelas kontrol. Variabel  bebas yang dimanipulasi berfungsi sebagai variable eksperimen dan variable terikat berfungsi sebagai variable eksperimen terhadap variable terikat dinilai pada setiap variable control.
Adapun tahap – tahap pelaksanaan penelitian ini meliputi penyajian pembelajaran dengan menggunakan macromedia flash, untuk kelas eksperimen dan kelas control. Pada pelaksanan tindakan dilapangan akan digunakan desain penelitian pola sebagai berikut :
Matrik untuk Rancangan Pendidikan
Kelas
Media macromedia flash
Laki – laki ( A 1)
Perempuan ( A2 )
Pengetahuan awal tinggi
( B )
A1B1

A2B1
Pengetahuan awal rendah ( B )
A1B1
A2B2
Keterangan :
A1B1            = Penggunaan macromedia flash pada kelompok siswa ( laki – laki )       dengan pengetahuan awal tinggi.
A1B2            = Penggunaan macromedia pada kelompok siswa ( laki – laki ) dengan pengetahuan awal tinggi.
A2B1            = Penggunaan macromedia flash pada kelompok siswi ( perempuan ) dengan pengetahuan awal tinggi.
A2B2            = penggunaan macromedia flash   kelompok siswi ( perempuan ) dengan pengetahuan awal rendah.
F.     Teknik analisis data
          Mengukur pengetahuan siswa terhadap materi pelajaran bahasa inggris yang diberikan, baik dengan menggunakan macromedia flash  kelompok laki –laki ataupun dengan menggunakan macromedia flash kelompok perempuan. Tes yang diberikan sesuai dengan kompetensi dasar dan pokok bahasan yang dieksperimenkan. Penskoran tes ini menggunakan rumus Arief, dkk ( 1989:265 )
Yaitu:                          S = JB      X 100 %
                                           JS
Keterangan :
S       = skor
JB     = jumlah betul
JS      = jumlah soal
G.    Teknologi pengumpulan data
Untuk menguji hipotesis yang dilakukan, digunakan teknik analisis data. Sebelum pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji persyaratan analisis yaitu normalitas data dan homogenitas varian populasi.
Uji normalitas digunakan Chi kuadrat ( Ridwan, 2004 ) adapun langkah – langkahnya sebagai berikut :
1.      Membuat daftar frekuensi yang diharapkan.
2.      Menentukan batas kelas.
3.      Mencari nilai skor Z untuk batas kelas interval dengan rumus:
Zbatas kelas – X
                    S 
4. Mencari daerah 0 – z dari table kurva normal dari 0 – z dengan menggunakan angka – angka 0 – z.
  5.  mencari luas tiap kelas interval dengan cara mengurangkan angka – angka 0 –z .
 6.  mencari frekuensi yang diharapkan dengan mengalikan luas tiap interval dengan jumlah responden.
7. mencari Chi kuadrat.
8. membandingkan x2 dihitung dengan x2 tabel.
9. jika x2hitung ≤ x2tabel maka distribusi normal.
Pengujian hipotesis yang diajukan, dengan menggunakan teknik analisis data yang pengelolaannya dilakukan secara manual dan dengan program SPSS versi 11.0. sebelum pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji persyaratan analisis. Perbedaan hasil belajar bahasa inggris pada kelompok siswa ( laki – laki ) yang diajar dengan menggunakan macromedia flash pada kelompok siswi ( perempuan ) yang diajar dengan menggunakan macromedia terhadap kelompok siswa ( laki – laki ) dan siswi ( perempuan ) dengan pengetahuan awal tinggi dan rendah dianalisis dengan menggunakan statistik uji perbedaan atau uji- t ( Sudjana ) .

T   =          x1 – x2 
            SD
X1                        = rata – rata skor kelompok I
X2                        = rata – rata skor kelompok II
N1                        = jumlah subjek dalam kelompok I
N2                        = jumlah subjek dalam kelompok II
Rumusan hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini adalh  sebagai berikut : 1. Hipotesis pertama
H0         : Hasil belajar kelompok siswa (  laki – laki ) yang diajarkan dengan hasil belajar kelompok siswi ( perempuan ) yang diajarkan dengan menggunakan macromedia flash.
H1            : Hasil belajar kelompok siswa ( laki – laki ) yang berpengetahuan awal tinggi yang diajarkan dengan menggunakan macromedia flash lebih tinggi dari hasil belajar kelompok siswi ( perempuan ) yang brpengetahuan awal tinggi yang diajarkan dengan mengguanakan macromedia flash.


     Dengan symbol :

                                    H0 : µA1B1 = µA2B2
                                    H1 : µA1 = µB1
     H0 : Hasil belajar kelompok siswa ( laki – laki ) yang berpengtahuan awal rendah yang diajarkan dengan menggunakan macromedia flash sama dengan hasil belajar kelompok siswi ( perempuan ) yang berpengetahuan rendah yang diajarkan dengan menggunakan macromedia flash.
     H1 : Hasil belajar kelompok siswa ( laki – laki ) yang berpengetahuan awal rendah yang diajarkan dengan menggunakan macromedia flash lebih tinggi dari hasil belajar kelompok siswi ( perempuan ) yang berpengetahuan awal rendah yang diajarkan dengan mengguankan macromedia flash.
     Dengan symbol      :
H0 : µA1B1 = µA2B2
H1 : µA1 = µB1
       
DAFTAR RUJUKAN
Anderson, R. 1987 . pemilihan dan pengembangan media untuk pembelajaran. Jakarta  : Rajawali.
Azhar Arsyad. 1996. Media Pembelajaran. Bandung : Raja grafindo.
Diana Wenny. 2011. Pengaruh media film pendidikan IPA terhadap hasil belajar siswa di SD IT Imam Asy Syafi’i : Pekanbaru.
Herizon. 2011. System pembelajaran bahasa inggris dengan menggunakan macromedia untuk SD Yayasan Islam AS- Shofa. Pekanbaru.
Gedler, M.E.  2004. Belajar dan membelajarkan . Jakarta : Rajawali
Nanasudjana, 2005. penilaian hasil proses belajar mengajar. Bandung : Sinar
Oemar Hamalik. 2001. Pengajaran  belajar mengajar. Bandung : Bumi Aksara.
Ratna Wilis Dahar. 1988. Teori – teori belajar . Jakarta : Erlangga.
Uno. B. Hamzah. 2006. Teori motivasi dan pengukurannya  analisis dibidang pendidikan. Gorontalo : Bumi Aksara





Tidak ada komentar:

Posting Komentar